Terima Kasih Atas Kunjungan anda.. Agar Lebih Mudah Mengunjungi Blog ini lagi, BOOKMARK blog ini dengan CTRL+D !

I GUSTI PUTU YASA, THE LAST MAN STANDING

“The goalkeeper is the lone eagle, the man of mystery, the last defender. Less the keeper of a goal than the keeper of a dream.” – Vladimir Nabokov
Demikian tutur sang novelis Amerika kelahiran Rusia, Vladimir Vladimirovich Nabokov. Belum pernah ada dalam sejarah sepakbola sampai saat ini tercatat nama seorang Kiper yang menjadi pemain terbaik dunia, Belum pernah.
Bahkan Emrah Serbes, penulis terkenal Turki, menuliskan “While other players chase the ball, goalkeeper is the only one that stands against it.” .Sendirian mempertahankan gawang, sendirian memikul beban di setiap pertandingan. Menjadi Pahlawan atau Pecundang, tinggal tunggu saja.
Kiper adalah orang yang disebut pertama dalam susunan pemain tetapi justru menjadi orang terakhir menjaga sebuah tim dari kemasukan gol. Kiper terkadang menjadi sebagai pahlawan pertandingan apabila harus berakhir lewat drama adu penalti. Tapi seringkali juga disebut sebagai penyebab kekalahan sebuah tim apabila banyak mengalami kebobolan.
Kiper menjadi representasi atas baik maupun buruknya organisasi pertahanan sebuah tim sepak bola.
Siapa yang tidak kenal I Gusti Putu Yasa? Kiper legendaris Persebaya dan Timnas.Dan,inilah kisahnya:
Karir
“Saya dari kampung, memang sudah suka bermain bola. Saya dari Denpasar, saya lulusan STM. Dari SD saya suka main bola. Cuma tidak langsung posisi penjaga gawang. Sebenarnya saya menjadi kiper itu dadakan.”
“Waktu kelas 3 STM, ada Porseni (dulu Popsi). Main bola tidak ada penjaga gawang, karena sudah lulus. Karena dulu saya punya basic main basket, jadi saya jadi penjaga gawang dadakan. Dianggap bagus, sampai masuk final lawan SGO (dulu SMOA). Salah satunya teman saya satu sekolah, dia adik kelas saya, Made Kawiarda. Kakak, Made Pasek Wijaya. Saya main satu sekolah sama dia. Klub pertama saya, Lingers, Internal Perseden Denpasar.”
“Setelah tamat STM, saya kerja di Jakarta. Karena basic saya mesin, saya kerja di Astra. Hampir 3 tahun di Jakarta. Disana saya masih main bola, tetap jalan. Masuk Jakarta, juga sudah jadi kiper. Klub saya, Volker, internal Persitara Jakarta Utara. Saya juga dipanggil untuk bermain di Persitara, waktu itu divisi 2.”
“Umur 21 tahun saya ke Surabaya, saya diterima di Direktorat Jendral Bea dan Cukai.”
“Ternyata di kantor saya yang baru, ada klub sepakbola. Kebetulan teman-teman dari Jakarta banyak suka bermain bola. Kita bikin klub dulu di kantor.”
“Dulu, ada semacam turnamen antar kantor. Ada dari Pemda (Bodro, Rusdi), ada dari Pelabuhan. Namanya Aneka Gas Cup. Kita mengikuti itu dan juara. ”
”Selesai turnamen, saya masuk Sasana Bhakti (Sakti), Machrus Afif itu adik kelas saya di Sakti. Saya tidak tahu Sakti itu, yang saya tahu lihat di Koran. Sakti ternyata klub paling lemah di kompetisi internal Persebaya, strategi saya pas. Banyak teman-teman saya masuk ke IM, Suryanaga. ”
”Salah satu yang merekomendasikan saya masuk Persebaya, Budi Johannis. Saya berkompetisi dengan dia, Budi sempat bermain di tim nasional. Saya tahu nama, tidak tahu orang. ”
“September 1983 saya ke Surabaya, Februari 1984 saya sudah masuk tim Persebaya.”
“Sekitar 1983-1984, ketika ada pelatih, Mujiadi namanya. Dulu Warna Agung, ditunjuk sebagai pelatih Persebaya. Persebaya, saat itu punya Sasono Handito dan M Ridwan. Harus punya 3 penjaga gawang, saya salah satu yang direkomendasikan Budi (Johannis). Saya tidak kenal Budi, Budi cuma lihat saya bermain. Karena dua kali, dia kena penalti. Dua kali kena sama saya. ”
”Saya direkomendasi, saya ikut saja. Pertama kali dipanggil, pertama kali saya lolos. (Sasono) Handito orangnya fair, sportivitas tinggi. Mungkin karena pendidikan mempengaruhi. ”
“Dia bilang ke saya, ‘Kayaknya saya kalah bersaing dengan anda. Walaupun anda pendatang baru. Supaya saya tetap eksis, saya akan pergi pulang kampung ke Gresik’. Handito mengakui kemampuan saya. Saya datang, dia pergi ke Persegres.”
“Di Persebaya, tinggal saya, M Ridwan dan Usnadi.”
“Dari rentang waktu 1984-1990. Baik di Persebaya maupun PSSI, Saya tidak pernah tersingkir. Di Persebaya tidak pernah dicoret, demikian di PSSI. Saya sendiri yang akhirnya mengundurkan diri dari PSSI.”
Tentang perasaan final perserikatan di Senayan
“Bagi saya pribadi, biasa, ketika masuk final. Saya pernah nonton divisi utama melalui televisi, antara 1980-1981, antara Persiraja Banda Aceh melawan Persipura Jayapura. Bayangan saya main bola di Senayan kayak apa? Itu saja.”
“Kedua, saya ingat Abdul Kadir. Arab Bali dia. Sama saya suka ngomong Bali, kebetulan sewaktu pra piala dunia, dia melatih saya. Saya ingat dia, pernah nonton waktu SD di Bali. Seneng saja, Bangga saja. Waktu itu barangkali lebih ke Surabaya daripada Bali.”
“Gembira ya gembira, tapi khan oh ini rasanya juara. Cuma gini, naik panggung dapat medali terima piala. Gitu saja”
“Senengnya barangkali, orang deket kita misalnya pacar saya (sekarang jadi istri saya). Barangkali calon mertua saya, saudara saya. Itu justru mereka yang senang berlebihan, bukan kita. Karena selesai, besok latihan lagi.”
“Apalagi saya, selesai Persebaya harus segera ke timnas, selesai sana (timnas) balik Persebaya. Gak ada istirahat, 7 tahun itu begitu terus. Untung dapat fasilitas dispensasi (kantor), kalau enggak gak mungkin bisa.”
Tentang sepakbola “Gajah”
“Sebelum itu ada peristiwa sepakbola “gajah” juga, dilakukan oleh PSIS Semarang.”
“Saya baru masuk Persebaya. Putaran I di Ujung Pandang. Selesai putaran I, putaran II di Semarang. Pertandingan PSIS Semarang lawan PSM Makasar. PSIS draw, Persebaya masuk ke Senayan, 12 besar. Ternyata PSIS tidak ajak kita, bukan draw, PSIS malah kalah 0-1 dari PSM. Dimasukkan sendiri sama Budiawan Hendratno. Proses gol telak sekali, karena kita nonton semua. Semua kecewa terutama Budi, dia kaptennya.
”Ada momen kita yang menentukan di Surabaya. Lawan Persipura, saya tidak main. Semua pemain inti tidak main, semua pemain cadangan. Edi Mujiarto kipernya, Usnadi saja tidak dipasang apalagi saya. ”
”Bukan karena sakit hati, lebih ke strategi. itu tercermin ketika kira rapat technical meeting untuk menentukan lawan Persipura. Budi Johannis ngomong. Manager saat itu, Agil , itu motivator seorang orator. Yang jelas kita dikerjai, orang Surabaya karakternya, ngerjain lebih sakit lagi. ”
”Sewaktu Persebaya lawan Persipura, di Ujung Pandang juga ada Perseman Manokwari melawan PSM. Kita tidak mau ajak semua itu termasuk PSIS, kita lebih memilih Persipura. Disana hasil akhir 2-0 untuk PSM. Daripada nanti kelewat , PSIS masuk. Kita main, 0-12 untuk Persipura. PSIS marah, anak-anak Surabaya diancam di Jakarta.”
”Pressure dari media, dari masyarakat umum tidak ada apa-apanya. Karakter Surabayanya lebih kuat dari Pressure-pressure tadi, pressure tidak kita pikirkan walau banyak ancaman-ancaman seperti pemain Persebaya keluar hotel, tinggal nama.”
”Di Hotel Indonesia, kita dikumpulkan. Pejabat-pejabat nasional memberikan motivasi seperti Sudarmono, Try Sutrino, Ruslan Abdul Gani. Bahkan Srimulat sekalipun memberi dukungan. Pejabat-pejabat tersebut memberikan wejangan, ‘sudah gak usah takut, konsentrasi saja dengan permainan’. Disitupun kita memilih Persija, sebagai lawan di Final. Pokoknya main draw, supaya masuk final berdua. ”
“Kenapa memilih Persija? Karena Persija selalu kalah sama kita.”
Tentang pertandingan Persib vs Persebaya 3-3
Perlu digaris bawahi, pertandingan yang berlangsung Senin, 21 Maret 1988. Adalah pertandingan terbaik selama kompetisi perserikatan 1987/1988.
“Gol pertama, saya ambil bola, kemajuan trus bola itu lepas. Sehingga jadi gol, karena kena lampu, silau dikit”
Tentang gol 3 sentuhan
”Golnya cepat sekali itu. Jaman saya kan sering, Syamsul Mustaqim tiga sentuhan. Gol dari saya itu, tendangan saya jauh. Gol seperti ini sering juga di Gelora (10 Nopember). ”
”Syamsul sering di pinggir kanan atau kiri. Jadi, saya kasih bola arah depan dia. Mustaqim masuk dari tengah. Di Heading sama Syamsul, diselesaikan dengan shooting Mustaqim. Gol seperti itu sering, jarang kita main dari bawah.”
”Kita memanfaatkan keunggulan masing-masing. Saya punya tendangan jauh, akurasinya bagus. Tinggal akurat atau tidak, itu saja. Syamsul heading gak ada ngalahin pada waktu itu.”
”Senayan 3 kali, lawan PSMS dan Persiba. Mereka gak mau bola dari bawah, begitu saya dapat bola. Semua pada maju ke depan. ”
Tentang pertandingan Final 1986/1987
Final dilangsungkan hari Rabu, 11 Maret 1987. Hasil akhir PSIS vs Persebaya 1-0.
”Ketika final 1986 kalah 1-0, golnya itu kontroversial. Itu bola, saya dapat. Tidak perlu tangan dua, tangan satu saja dapat. Memang saya biarkan, karena ada peluit (wasit).”
”Ketika bola ditendang dari sebelah kanan, semua pemain kita diam termasuk bek. Karena ada peluit. Ribut Waidi, dia tidak niat itu. Dia hanya ketimpa bola. Bola ke arah gawang. Disamping saya, saya diamkan karena ada peluit. Jaja Mujahidin, nama wasitnya.”
”Ternyata itu disahkan sebagai gol. Alasannya itu peluit penonton, padahal dia sendiri yang tiup. Sebagai pemain di lapangan, di Senayan. Suara peluit penonton tidak terdengar. Seperti dikerjain (wasit)."

Tentang pertandingan Final 1987/1988
“Tahun 87/88 Persebaya sempat menerapkan sepakbola ilmu pengetahuan, saat itu pemberitaannya ramai sekali dikoran, kebetulan waktu tes iq saya yang nilainya tertinggi.”

“Kita leading dulu 3-1, saya kena penalti satu tapi tidak masuk. Yang menendang Patar (Tambunan). Saya kenal dia, bola lewat gawang. Mereka sebenarnya tidak berani ambil (penalti).”
“Saat di Senayan kami bahkan tidak tahu kalau keluarga kami (anak istri) datang mendukung ke senayan, itu memang sengaja diatur panitia agar tidak mengganggu konsentrasi bertanding kami. Kami juistru kaget dan baru tahu kalau anak istri datang ke senayan setelah pertandingan selesai”.
Tentang pertandingan Final 1989/1990.
Ekspektasi sebagai juara bertahan di dua tahun sebelumnya membuat publik menjagokan Persebaya kembali merebut gelar juara. Kedalaman skuad sudah tidak diragukan, tim terbaik masih tersisa. Namun, semua berubah ketika kalah.
“Ya namanya bola bundar. Kalau saya lihat down-nya mungkin karena gol bunuh diri itu. Bangkit (Subangkit) merasa dia yang salah, tapi saya tidak akan pernah menyalahkan dia.”
“Secara teknis, siapapun penjaga gawangnya. Bangkit bawa bola dari sini (sisi kiri gawang), dia menang posisi dikejar sama lawan.dia menang posisi, dia mau back pass ke saya. Deket khan, back pass.”
“Secara teknis, bangkit back pass sebelah kiri saya. Harusnya sebelah kiri saya. Bangkit itu kalau tendang suka ngefek, suka pakai kaki dalam. Mau kiri mau kanan, pakai kura-kura.”
“Nah itu, bola pasti akan dibawa ke kirinya dia. Kalaupun saya tidak dapat, bolanya out. Logika seperti itu, saya sendiri juga kaget. Kenapa bangkit tendang bolanya itu kayak lawan, pojok sekali jauh sekali di kanan. Saya pikir, kurang ajar bangkit dalam hati saya. Ya sudah gol.”

“Di ruang ganti pun kita yakin juga, masih keyakinan tinggi.”
“Pulang dari sana, semua menyerang. Saya dan Bangkit biasa saja, kecuali bola itu kotak, baru kita itu susah. Bola itu bulat.”
“Yang saya syukuri bukan apa-apa, bukan soal juara atau tidak. Bukan. Analisis orang-orang yang merasa dirinya ngerti bola (ketika itu) tidak ada yang menganalisis bahwa pemai kena suap.”
“Saya dan bangkit kumpul 5-7 tahun. Sudah tahu bola kemana, tapi khan tidak 100% ke situ. Suatu saat pasti akan salah, tidak sesuai keinginan. Manusiawi itu dan saya tahu persis.”

Tentang indikasi suap
“Ketika ada tim saya, bermain aneh. Saya duluan mundur dan itu pernah saya lakukan 2 kali.”
“Waktu dipinjam Bina Taruna (Jakarta) untuk Merlion Cup, saya dipinjam dari timnas. Saya lihat teman tidak benar nih mainnya.”
“Saya bilang ke pelatih, waktu itu Ipong Silalahi, ‘Sorry saya berhenti, ganti saya babak kedua’.”
“Saat turnamen di Singapura itu pemain bon-bonannya adalah Saya, Fachri Husaini, Anshary Rangkuti dan Adityo Rahmadi. Sebelumnya saya sudah punya feeling tidak bagus.”
“Babak pertama saya kebobolan 2 gol, gol pertama saya merasa ada yang tidak enak, bola yang harusnya diambil tapi tidak diambil.”
“Kembalikan saya ke PSSI, saya disini tidak membawa nama Persebaya tapi nama Nasional. Saya marah-marah dan menolak main dan feeling saya terbukti benar kami kalah 8-1.”

“Persebaya juga begitu, cuma bukan di kompetisi divisi utama. Mercu Buana Cup di Teladan, Medan. Turnamen tidak penting bagi mereka, bagi saya tetap penting. Ini anak-anak main gak bener, saya minta ganti saya gak mau. Kenapa saya begitu? Karena saya menyandang predikat nasional, saya gak mau hancur nama saya gara-gara itu.”
“Saya langsung buka kaos, masuk ruang ganti dan saya diam tidak mau keluar. Biar pelatihnya ngotot saya tidak mau, ganti. Saya tidak sreg cara anda main, ya saya sudahi.”
“Saya penjaga gawang, jadi saya tahu di depan bagaimana. Cara main saya tahu. Saya bisa melihat, saya sama pelatih bahkan pemain lawan. Pemain lain tidak bisa melihat temannya 10 orang, paling 2-3 orang.”
Tentang pemain idola
“Kalau luar negeri, Kevin Keegan. Permainannya bagus.”
“Gayanya, penampilannya ya mungkin gantengnya, saya suka Didik Darmadi. Satu, saya nonton dia. Dua, saya pernah main sama dia, bertemu langsung. Dia bek kanan/ kiri. Kakaknya Adityo Darmadi.”
“Justru saya tidak punya idola kiper. Karena kiper bagi saya, itu masalah posisi saja.”

Tentang ritual sebelum bermain
Kiper selalu identik dengan hal-hal ‘aneh’. Fabien Barthez, kiper Perancis kala menjuarai Piala Dunia 1998. Sebelum bermain, kepala plontosnya selalu dicium oleh Laurent Blanc. Hanya untuk sekedar membawa keberuntungan. Bagaimana dengan Putu Yasa?
“Gak ada itu ritual-ritual. Saya main saja, gak terlalu memikirkan itu. Khan sebelum main, sudah berdoa. Saya tidak ada keyakinan seperti itu.”
“Paling yang saya pikirkan itu, kualitas lapangan itu khan kadang-kadang beda. Gawangnya terutama tingginya bisa beda.”
“Lapangan di Indonesia, di bawah mistar biasanya cembung.”

Sewaktu Persebaya kalah 1-0 dari PSM, gol oleh Dullah Rahim. Putu Yasa mengakui gol tersebut adalah kesalahannya.
“Ini khan olahraga, sportif. Saya punya prinsip begini, yang namanya gol ke gawang. Penjaga gawang siapa? Dia yang salah. Tugasnya jaga gawang supaya tidak gol. Kalaupun teman bikin kesalahan didepan sehingga menjadi gol. Tetap saya mengakui saya salah.”
“Supaya, satu, masalah selesai di dalam tim. Kalau sudah saling menunjuk, bakalan rusak. Dan, saya tidak akan pernah membuat alasan saya tidak fit, saya tidak pernah. Saya jarang cedera, gak pernah keluar (pertandingan) diganti gara-gara cedera. Karena sebelum pertandingan khan ditanya, ada line up. Sudah siap, berarti segalanya teknis,fisik, mental siap juga.”
“Hasil pertandingan itu tiga; menang, kalah dan draw. Ketika kita kalah untuk menyelesaikan masalah, ya sudah. Toh besok ada pertandingan lagi, kalah bukan kiamat.”
Bondo dewe
“Persebaya tidak pernah membelikan baju kiper untuk saya pakai. Saya beli sendiri. Persebaya ada tapi tidak cocok dengan badan saya. Bahannya aneh-aneh, bukan adidas.”
“Saya beli di pasar baru Jakarta, karena lebih banyak pilihan.”
“Kemampuan tim segitu, lagipula saya nyaman pakai baju saya sendiri. Kalau tidak nyaman, tidak pede kita.”
“Maka identik dengan kuning, karena saya punya 2.”
“Sarung tangan yang enak kita pakai. Sarung tangan, sepatu semua beli sendiri. Bagi saya itu nyaman.”
“Saya pakai adidas world cup, puma beli di Malaysia.”

Bondo dewe
“Persebaya tidak pernah membelikan baju kiper untuk saya pakai. Saya beli sendiri. Persebaya ada tapi tidak cocok dengan badan saya. Bahannya aneh-aneh, bukan adidas.”
“Saya beli di pasar baru Jakarta, karena lebih banyak pilihan.”
“Kemampuan tim segitu, lagipula saya nyaman pakai baju saya sendiri. Kalau tidak nyaman, tidak pede kita.”
“Maka identik dengan kuning, karena saya punya 2.”
“Sarung tangan yang enak kita pakai. Sarung tangan, sepatu semua beli sendiri. Bagi saya itu nyaman.”
“Saya pakai adidas world cup, puma beli di Malaysia.”
Kelebihan dan kekurangan seorang Putu Yasa
“Budi Johannis selalu bilang, ‘Kalau ada Putu,Aman’. Kelemahan gampang diprovokasi oleh pemain musuh terutama di kandang lawan.”
“Kalau dia tidak kena (provokasi), sudahlah tenang kita main. Maka dari itu selesai main, Budi selalu beritahu saya.”
“Budi bilang ke saya,‘awakmu jangan terprovokasi. Terutama pemain-pemain Ujung Pandang.”
“Bentuk provokasi seperti kuping di sentil. Tendangan sudut kita konsentrasi di bola, “barang” kita dipukul.”
“Alimudin Usman, pemain nakal. Kecil orangnya.”
“Akhirnya di Surabaya, tidak berani dekat saya. Pernah dia bawa bola lolos, saya sengaja biarkan. Saya yakin tidak masuk, saya tunggu memang.”
“Kalau saya kejar, dia pasti lari. Dia menghindar. Benar, dia semangat mengejar bola, baru saya ambil. Saya sliding.”
“Dia loncat keluar lapangan, menabrak papan reklame sampai jebol. Dia bangun dan bilang,’Putu, jangan keras-keras putu. Kita saudara.”
“Kita bisa akur kalau kita sama-sama PSSI.”

Tentang sepakbola
“Pemain bola, sejarah dari dulu sampai sekarang (jaman saya) tidak ada pemian bola orang kaya,ngak ada. Pasti orang miskin,latar belakang ekonomi pasti orang miskin. Cuma karena di bola bisa seperti saya, walaupun tidak digaji dulu ternyata saya bisa bekerja karena bola.”
“Yang jelas pasti berangkat dari latar belakang ekonomi yang parah.”
“Jaman saya sistem pembinaan amatir, saya tidak menuntut take home pay. saya hanya menyalurkan hobi, itu saja prinsip saya.“
“Saya bukan dapat fasilitas dari Persebaya.”
“Saya walaupun amatir, jiwa saya professional ketika itu. Olahraga ini bukan politik, bukan apa gak ada kaitan dengan suku,ras,agama gak ada.”
“Saya mampu pakai, gak (mampu) gak usah. Khan itu saja.”
“Bagaimana kamu berprestasi sekarang?, ribut saja sekarang.”
“Secara teknis enggak, tapi kalau disuruh memberikan masukan teknis. Mungkin saya ingat, itu saja. Tapi saya tidak mengikuti perkembangan (sepakbola sekarang).”
Tentang Sistem Pembinaan
“Saya pernah training di 2 negara, yang sepakbolanya maju. Jerman dan Belanda. Waktu pra Piala Dunia, kita TC (Training Camp) sebulan.”
“Setelah pulang, saya berpikir mungkin 25-50 tahun ke depan (saat itu tahun 1987), Indonesia tidak bakal bisa menyamai seperti mereka.”
“Gak usah ngomong pemain yang ada, yang jadi ini gak usah. Kalau saya, ikuti seminimal mungkin sarana dan prasana yang mereka miliki. Ikuti dulu itu, kalau itu bisa. Baru kita mulai membina pemain itu. Kalau sekarang, gak bisa.”
“Saya lihat Pelita Jaya yang sangat mumpuni. Dia punya stadion, lebak bulus hanya untuk bertanding kompetisi. Latihan di Sawangan (Bogor). Di Sawangan, mereka punya 2 lapangan. Disitu dipenuhi dengan diklat. Selain Pelita Jaya, tidak ada yang yang punya.”
“Persebaya, nama besar untuk ukuran Indonesia. Apa Persebaya punya lapangan? Persebaya, kalau 1 minggu 8 hari kompetisi. 8 hari juga lapangan itu penuh. Terus, kita bicara bagaimana kualitas lapangan? Belum lagi Gelora 10 Nopember.”
“Saya pernah camp di Bayern Urdingen, Jerman. Bayern Urdingen dulu divisi utama liga Jerman. Lapangannya ada 25 buah, dalam satu kawasan. Berbagai karakter lapangan. Stadion dia hanya untuk kompetisi. Kita mau main disitu, lihat lapangan lihat saja. Tidak boleh menginjak (lapangan). Jangankan pakai sepatu bola, pakai sepatu kets pun tidak boleh. Kalau di Indonesia ngak lah, ngak bisa.”
“Maka dari itu, jika berbicara prestasi. Semua orang merasa pinter. Masak sih, Indonesia, 200 juta mencari 11 orang saja tidak bisa?. Ngomong gampang, tapi tidak pernah berpikir.”
“Saya main bola di tempat ini, kira-kira prestasi sampai dimana?. Kenapa saya ngomong seperti itu? Karena sarana dan prasarana (Infrastruktur) hanya segini, bagaimana berprestasi tinggi? Tidak bisa.”
Profesionalisme
“Tahun 87 saat kita away ke semarang, Nuryono Haryadi tidak tahu kalau istrinya telah melahirkan, bahkan baru diberitahu setelah pertandingan berakhir.”

“Yang paling sering kena itu saya, karena saya dari bali dan agama saya hindu saya pernah disuruh main di senayan. Saya jalani saja, ini khan sepakbola saya hidup di indonesia yang negaranya beragam saya jalani saja. Waktu itu saya bilang, kalau di bali saya tidak akan main tapi kalau di jakarta (luar bali) saya main karena ini khan demi sepakbola.”
“Saya, kusnadi, Budi (Johannis), Nuryono dan satu lagi saya lupa, kami dipanggil Pak Mangindaan. Dia bilang ‘gua cuman nyiapin isinya saja, kunci rumah pasti siap’. Sampai sekarang kalau saya pulang kampung, saya dianggap punya rumah setelah bawa Persebaya juara 1987/1988 padahal tidak.”
“Sistem saya dulu itu patriotisme, gak ada kompensasi. Bahkan, sama (alm) semua itu (blegoh, agil) rumah waktu juara gak ada. Dan kita gak punya hak untuk nuntut itu.”
“Secara legal formal juga tidak bisa, hanya karena omongan. Tidak ada hitam diatas putih.”
Tentang keinginan kembali ke dunia sepakbola
Kembali ke dunia yang telah membesarkan namanya, Beliau kami tanya soal kemungkinan menjadi pelatih setelah setelah purna tugas dari instansi tempat beliau bekerja saat ini.
“Mungkin saja, tapi kalau itu saya lakukan pastinya bukan karena uang, tapi murni karena kecintaan saya terhadap sepakbola dan tanggungjawab karena memiliki ilmu yang sudah seharusnya di turunkan agar bisa bermanfaat bagi orang lain.”

sumber :

Johny Fahamsyah , Poros Permainan PERSEBAYA 1978

”Tak banyak yang bisa dipetik dari ukuran itu. Kecuali penampilan Joko Malis dan Johny Fahamsyah — 2 nama yang memberikan harapan bagi masa depan persepakbolaan nasional. Joko Malis maupun Johny Fahamsyah adalah tipe penyerang yang mengingatkan orang pada gaya permainan Sutjipto alias Gareng. Mereka bergerak dengan arah yang sukar ditebak. Gocekannya pun boleh.”
Begitulah artikel yang dimuat di koran Tempo, 4 Februari 1978. Sebuah mukadimmah yang tepat bagi pembaca yang belum mengenal siapakah sosok legenda Persebaya kali ini. Bagi khalayak yang mengikuti perjalanan Persebaya di rentang waktu 1970-an, sudah pasti tidak asing lagi. Kepada kami dengan antusias, sang legenda lapangan tengah ini mulai bercerita.
“Sejak kecil saya sudah suka sepakbola, dulu saat kakak saya dan teman-temannya main bola saya selalu dipinggir lapangan melihat.”
“Saat SMP kelas 2 saya disuruh latihan untuk persiapan POPSI (semacam pekan olahraga siswa). Kebetulan yang ikut anak-anak kelas 3 semua, saya paling muda. Saya juga nyeker dan belum pakai sepatu.”
“Pelatih saya bilang, nanti sore datang latihan di lapangan Bogowonto, kita mau ikut POPSI. Kemudian saya membeli sepatu, anehnya setelah memakai sepatu justru saya tidak bisa menendang, tapi saya tetap dipasang. Pas main kami malah kalah dengan skor besar, 5-0.”
“Kakak saya dulu main di THOR bersama temannya, Dollem. Dia punya pengaruh besar terhadap karir saya, dari dia lah saya suka sepakbola.”
Selanjutnya, Johny muda bergabung dengan salah satu klub anggota Persebaya yaitu Indonesia Muda (IM). Di klub tersebut, bakat besarnya semakin terasah dan kesempatan masuk ke Persebaya Junior pun datang.

Gelar pertama untuk Persebaya
“Tahun 1976, usia 18 atau 19, saya dipanggil seleksi untuk Persebaya B persiapan piala Soeratin. Dari seleksi tersebut tersaring 23 pemain, setelah itu baru dilihat umur pemain yang lolos seleksi. Umur saya kelebihan setahun, yang dicari adalah kelahiran 1957 sedangkan saya kelahiran 1956.”
“Kemudian saya diajak Abu Ramli ke kantor kelurahan, disitu usia dan data-data saya ‘dipermak’. Tahun kelahiran diganti menjadi tahun 1958 agar bisa ikut piala Soeratin.”
Bermain di turnamen resmi pertamanya, sejak gabung dengan Persebaya. Johny Fahamsyah mampu berbuat banyak untuk klub kebanggaan arek-arek Suroboyo tersebut.
“Persebaya lolos 4 besar. Grupnya Persebaya antara lain PSP Padang, PSM Makassar, bermain di Malang. Sementara di grup lainnya seperti PSIS, Persija, pertandingannya digelar di Pasuruan. Saat itu Persija diatas angin, namun Persija ingin ‘memilih’ lawan agar menghindari Persebaya. Persija kalah dari Semarang, sementara Persebaya yang harus menang jika ingin juara grup justru bermain imbang dengan PSM Makassar.
Setelah bermain di Malang, Persebaya lolos sebagai runner-up di bawah PSP Padang, fase knock out selanjutnya di gelar di Surabaya.
“Babak semifinal dan final digelar di Surabaya. Persija bertemu PSP Padang sementara Persebaya bertemu PSIS. Saat itu Persebaya vs Persija disebut-sebut sebagai final ideal.”
“Di semifinal, Persebaya bertemu PSIS main hari jumat jam 3 sore tetapi jam 1 setelah sholat jum’at penonton sudah penuh. Saya dan teman-teman satu tim yang tadinya mau menonton partai pertama semifinal sempat heran, waduh wes penuh rek yo opo iki ?. Karena penuh, kami pun tidur sambil menunggu kickoff jam 3 sore.”
“Melawan PSIS kami leading 2-0 kemudian dikejar jadi 2-1, selanjutnya unggul lagi 3-2 kemudian kami lolos ke final dengan skor akhir 4-2. Di final kami menunggu pemenang antara Persija dan PSP Padang. Dan.saya berharap Persija yang lolos ke final.”
“Tahu kita lolos final, Persija semakin bersemangat apalagi pemain mereka top-top semua. Salah satunya Wahyu Tanoto. Ditambah yang dihadapi ‘hanya’ PSP Padang. Skuad Persebaya B juga menyaksikan laga tersebut. Tak disangka PSP Padang bermain ngotot, hingga setengah permainan skor masih 0-0. Di penghujung laga, PSP Padang mendapat corner kick bola di heading dan gol. Pemain-pemain Persija hanya bisa lemas. Kami sempat berkelakar, ‘hahahaha sukur kapok koen’.”
Persebaya B lolos ke final Piala Soeratin, laga yang digelar di Stadion Tambaksari tersebut menjadi laga final pertama bagi Johny Fahamsyah dengan logo Persebaya di dada.
“Di final, kami pikir penonton akan sepi karena lawannya hanya PSP Padang. Ternyata kami salah, penonton justru penuh karena saat itu warga Padang di Surabaya ikut membantu. Penonton dari Padang termasuk mahasiswa Padang yang kuliah di Surabaya, bahkan pada hari itu semua restoran Padang menggratiskan makanan bagi warga Padang. Saat itu nyonya (istri) juga menonton pertandingan tersebut.”
“Sebelum laga lawan PSIS, di mess pemain (Wisma Eri Irianto di Karang Gayam) di parkir sepeda motor yang dijanjikan jika kami juara, alhasil kami pun bermain kesetanan.”
“Saat itu kami dilatih oleh (Alm) Misbach, Di final kami kalahkan PSP Padang 1-0. Motor di reyen keliling-keliling, padahal waktu itu motor belum dibayar hanya sebatas dipamerkan saja. Sebulan kemudian baru saya mendapat STNK.”

Pada Piala Suratin 1976, PSP Padang merupakan tim yang difavoritkan untuk menjadi juara. Semua lawan, termasuk Persebaya Surabaya yang kelak menjadi juara, dilibas. Di babak semifinal yang digelar di Stadion Gelora 10 November, Surabaya (25 Oktober 1976), PSP pun mengalahkan Persija Jakarta Pusat 1-0 melalui gol tunggal Ikrardinata pada menit 72. Namun, di partai akhir (final) di tempat yang sama (29 Oktober 1976), PSP harus mengakui keunggulan tuan rumah Persebaya 0-1.
Hegemoni Persija di piala Suratin memang luar biasa, sudah kuat mengakar. 7 tahun lamanya, dari 1967 sampai 1974 sebelum digeser oleh Persebaya.
1967 Persija Jakarta
1970 Persija Jakarta
1972 Persija Jakarta
1974 Persija Jakarta
1976 Persebaya Surabaya
                                                            Piala Suratin 1976


Persebaya Senior
Setelah berjuang keras bersama IM dan Persebaya Junior, kesempatan untuk bermain di level senior akhirnya datang. Johny Fahamsyah melakoni debut pertamanya dengan Persebaya senior di turnamen Surya Cup. Turnamen sebagai bagian persiapan tim sebelum berlaga di kompetisi Perserikatan di Level Nasional.
“Setelah juara Soeratin Cup saya naik ke Persebaya senior, saya ditarik ke senior untuk membantu pemain-pemain senior yang sudah berumur seperti Abdul Kadir dan Waskito. Ditengah ada saya, Keltjes dan Waskito. Karena saya termasuk paling muda, saya yang disuruh naik turun mengcover pemain senior yang sudah senja.”
“Saat itu persiapan untuk Surya Cup, kami dilatih oleh Om Januar Pribadi (Phoa Sian Liong, pemain Persebaya tahun 60-an satu angkatan dengan Andjiek Ali Nurudin).‘kamu ikut latihan sini’. Waktu itu nama Anjas Asmara (pemain Persija) sangat terkenal, dia sempat bilang dikoran ‘dimana ada bola disitu ada saya’. Sayang, dia tidak ikut main di Surya Cup padahal saya sudah ngebet melawan dia.”
Bermain di level senior, Johny Fahamsyah sempat merasa kurang percaya diri. Hal tersebut bisa dimaklumi karena pemain senior yang bermain bersamanya adalah pemain-pemain dengan nama besar di level nasional.
“Waktu itu saya juga takut dengan pemain senior, disuruh gini saya turuti. instruksi mereka, ‘pokoke dapet bola langsung umpan, jangan lama-lama bawa bola’, ya saya turuti saja.”
“Pelatih bilang ke saya, ‘kamu pemain muda tenaganya lebih, kamu harus punya kelebihan kalau pemain lain punya satu kamu harus punya tiga’. Hampir setiap pagi saya lari-lari, menambah porsi latihan sendiri.”
“Manager IM saat latihan juga sering memantau saya, sebelum pertandingan saya dipanggil dikantor dan dikasih wejangan,‘kamu kemarin harusnya bisa cetak 2 gol, kenapa kamu ini? saya belum pede jawab saya.”
“‘Kamu harus pede, kalau ada kesempatan tendang saja. sepuluh kali tendang kamu bisa gol satu itu sudah bagus’,. Sejak saat itu saya mulai pede, begitu ada kesempatan saya sikat, saya juga mulai berani bawa bola melewati pemain. Setelah itu beliau ngasih saya amplop,‘ini buat kamu biar semangat’ biasanya isinya 75 ribu, saat itu vespa seharga 300 ribu-an.”
  Jongkok dari kiri ke kanan : Waskito, Hadi Ismanto, Joko Malis, Johny Fahamsyah, Abdul Kadir. Berdiri dari kiri ke kanan : Soeyanto, Suharyoso, Rudy W. Kelces, I Wayan Diana, Hamid Asnan.               
                      

“Saat Surya Cup di Surabaya kami melawan Persema,  sebelumnya ada pemain Persebaya (Hartono dan Budi Susanto) yang pindah ke Persema dan sebaliknya ada pemain Persema yang ke Persebaya (Suharyoso), di kedua tim juga ada pemain bersaudara. Kebetulan adiknya Suharyoso main untuk Persema, saking panasnya tensi pertandingan sampai akhirnya terjadi perkelahian. Saat adiknya Suharyoso mau menyerang pemain Persebaya, kakaknya memukul adiknya sendiri dilapangan.”
“Anak-anak sempat bingung dan berkata,‘koen gendeng adikmu dewe mbok sikat. Timbang disikat arek-arek mending aku sing nyikat’, Soeroso bermaksud melindungi adiknya agar tidak jadi bulan-bulanan pemain Persebaya dalam perkelahian tersebut.”
Tak lama setelah bermain bersama pemain senior,Johny Fahamsyah berhasil membawa Persebaya ke final Surya Cup sekaligus juara, inilah gelar pertamanya bersama skuad Persebaya Senior.
“Setelah mengalahkan Persema kami menghadapi Persija, saya sudah menunggu Anjas. Sayang dia tidak main, yang main hanya Andi Lala. Surya Cup, turnamen pemanasan sebelum kompetisi perserikatan 1978, kami menangkan di Surabaya.”
“Di final Persebaya dan Persija menjadi juara bersama, karena setelah perpanjangan waktu skor masih imbang. Kalau dilanjutkan sampai malam tidak mungkin, karena waktu itu tidak ada lampu. Kedua kapten dipanggil, akhirnya diputuskan Persebaya dan Persija jadi juara bersama. Waktu itu penonton meluber sampai sentel ban tapi tidak ada keributan baik didalam maupun diluar stadion.”
bersama piala suratin 1976
Skema Persebaya 1975/1977


   

Juara Perserikatan 1978
Tahun 1978 merupakan puncak karier beliau ketika memperkuat Persebaya, juara nasional kepada kami beliau bercerita banyak
“Tahun 78 kami punya skuad tangguh kiper Suharsoyo, Wayan Diana dan Riono stoper, bek kiri Hamid Asnan, bek kanan Rusdy Bahalwan, tengah saya, Subodro dan Keltjes depan Hadi Ismanto, Waskito dan Kadir.”
“Kadir pemain berpengalaman, larinya kencang, dribble bagus, umpannya juga akurat dia dijuluki kancil.Kalau Waskito tendangan keras seperti pelor kanan kirinya hidup julukannya nyamuk. Pernah saat PON sekitar tahun 67, Waskito ambil tendangan bebas. Kena pemain lawan, langsung nggeletak. Setelahnya setiap Waskito mengambil tendangan, pagar betis lawan selalu menutup kepala dan selangkangan. Dan penonton banyak berteriak, ‘cekeli ndasmu ben ga nggeliyeng.’”
“Sedangkan Rusdy mainnya taktis dan tidak kompromi, dia bek yang ditakuti lawan. Keltjes mainnya halus, skill bagus tapi kalau ketemu pemain dengan tipikal keras seperti Rae Bawa susah dia. Wayan Diana dan Riono Asnan posisi stopper, bek dulu ditakuti, punya karakter kalau sekarang khan tidak bek terakhir yang saya lihat punya karakter ya Bejo. Setelah itu belum ada.”
“Dulu pemain memiliki skill dasar mumpuni, sekarang khan tidak. Kontrol sulit, passing sering salah. Kalau kalah menyalahkan lapangan, kalau dasarnya skill sudah jelek jangan menyalahkan lapangan.”
“Pelatih Persija (Marek asal Polandia) memanggil saya dengan sebutan nona, karena saya tidak pernah bermain kasar.”
“Kompetisi 78 pool Persebaya main di Jakarta, kami melawan Persipal 2-2, lawan Persiraja kalah 2-1, Persisam 7-0.”
“Saat final, skuad Persija dan Persebaya keluar bersama menuju lapangan. Tetapi Anjas keluar dengan menggandeng ceweknya, saat semua sudah dilapangan. Anjas menyusul karena mengantar ceweknya dulu ke tribun, bahkan acara seremonial sempat tertunda karena menunggu Anjas.”
“Melihat Anjas seperti itu saya dan pemain lain sempat dongkol,dalam hati saya ‘jancuk kakean gaya, awas koen yo’.”
Saat final tersebut keinginan untuk berduel langsung dengan pemain top, Anjas Asmara, yang telah tertunda sejak Surya Cup di Surabaya akhirnya terpenuhi. bahkan, Pelatih Persebaya kala itu ,M Basri, memberi tugas khusus untuk Johny Fahamsyah.
“Pelatih M Basri memberi instruksi,‘John dimana ada Anjas disitu harus ada kamu. Anjas berak pun kamu tungguin’.
“Saat pertandingan saya menempel ketat Anjas, dia saya matikan. Kemanapun Anjas pergi saya kejar. Pernah satu momen saat itu bola ada di Persebaya, Anjas saya tinggal. Begitu bola dicuri Persija dan diberikan ke Anjas, Anjas meliuk-liuk mendrible bola. Anjas tidak terkejar karena saya sudah jauh. Kemudian Anjas bergerak menendang bola, untung tidak gol.”
“Saat jeda pelatih marah-marah,‘John kamu gimana? Anjas koq lepas?. Coba tadi gol, bahaya kita’.”
Saya membela diri,‘Om tadi (sebelum pertandingan)Om bilang kalau bola dipegang Persebaya Anjas tinggal, tapi kalau bola dibawa Persija Anjas tempel. Tadi bola di potong Persija jadi saya tidak nutut ngejar Anjas’. Tetapi pelatih tidak mau tahu,‘Kalau bola kena Persija kamu harus tempel lagi’.’Iya om, iya om’, saya cuman bisa bilang begitu.”
Disemprot pelatih saat jeda babak pertama membuat Johny semakin bersemangat menjaga Anjas Asmara dan babak kedua menjadi pertarungan terakhirnya.
“Babak kedua dimulai, Anjas saya tempel ketat. Dia tidak dapat bola sama sekali, bola diumpan ke dia selalu saya potong. 10 menit kemudian dia ditarik diganti Sofyan Hadi, saya sangat lega tugas jadi lebih ringan.”
“Kemudian Joko (Malis) masuk mengganti (Abdul) Kadir, kami memperkuat lini tengah. Joko punya body bagus jadi dia unggul dalam perebutan bola, pada satu kesempatan Joko melepaskan tendangan setengah salto dan gol.”
“Bangga sekali setelah juara, apalagi mengalahkan Persija di rumahnya sendiri. Dulu hanya Persija dan PSMS yang kami takuti, yang lain tidak. Saat melawan tim lain sehari sebelumnya kami masih berani begadang tapi kalau lawannya Persija atau Medan, jam delapan kami sudah tidur. Itu inisiatif sendiri, bukan disuruh pelatih. Lawan kuat ya Jakarta dan Medan, kalau sekarang lawan Lamongan dan Solo saja susah.”
“Saat juara tahun 78 kami punya kebiasaan diskusi, nyangkruk dan ngumpul-ngumpul setelah latihan. Bahan obrolan ya sepakbola, misalnya kalau bola begini pemain lain harus begini dll. Semuanya lebih mudah karena kami punya skill dasar dan bakat kalau sekarang khan tidak, skill dasar aja tidak ada, misalnya sering salah passing, susah kontrol bola.”
“Kalau dulu main bola itu yang dipakai akal dan okol, kalau sekarang main hanya okol saja. Terakhir main pakai akal, okol dan bakat, ya eranya Budi Johanis saja.”
78
Menjadi juara 1975-1977. Jongkok dari kiri ke kanan : Waskito, Rusdy Bahalwan, Judi, Hadi Ismanto, Abdul Kadir. Berdiri dari kiri ke kanan : Joko Malis, Johny Fahamsyah, Suharyoso, Soeyanto, J.W. Didik, Rudy W. Kelces.
78
Mewakili Indonesia di Merdeka Cup 1977
Setelah juara nasional, sejumlah pemain Persebaya dipanggil timnas untuk mewakili di piala merdeka cup 1977.
“90% skuad ini adalah pemain Persebaya.Suharsoyo, Hamid Asnan, Rusdy Bahalwan, Riono Asnan, Soebodro, Abdul Kadir, Hadi Ismanto, Joppy Saununu, Budi Santoso, Didik Nurhadi, dan saya.”
78
Skuad Indonesia di Merdeka Cup 1977
Karir di Kompetisi Galatama
Dua tahun setelah juara, tepatnya tahun 1980, Johny Fahamsyah bergabung dengan kompetisi Galatama bersama Indonesia Muda (IM).
“Setelah 78 juara, tahun 80 saya gabung ke IM di Galatama. Pemain-pemainnya seperti Roni Paslah, Judo Harijanto, Junaidi Abdillah, Hadi Ismanto dll. Pak bos sampai datang ke rumah menemui orangtua meminta saya bermain di IM dengan janji bekerja di Pertamina. Dan orang tua saya sangat mendukung, sebelumnya saya dan Hadi (Ismanto) kerja di PLN.”
Selain tawaran dari IM Johny juga mendapat tawaran dari Niac Mitra. Saat itu banyak pemain Niac Mitra adalah mantan pemain Persebaya seperti Wayan Diana, Rudy W Kelces, Joko Malis.
“Wenas selalu menunggu saya jika latihan, selain itu dia juga menemui orangtua karena dia ingin saya gabung Niac Mitra. Kalau Wenas nunggu, saya keluar lewat pintu belakang. Wenas menawari saya gaji Rp. 150.000,- (kalau sekarang sekitar 15 juta perbulan) dan kontrak 2 juta per musim.”
indonesia muda
Indonesia Muda, berdiri 4 dari kiri. sebelah kanan disamping kiper adalah Joko Malis, Budi Johannis
“Dua tahun saya memperkuat IM, sampai Tunas Inti yang dilatih Anjas Asmara mendatangi saya. Setiap pagi sampai jam 12 dia nongkrong menunggu saya, bos Tempo Scan Pacific (Perusahaan Farmasi pemilik Tunas Inti) memanggil saya menawari saya bergabung dengan Tunas Inti. Saat itu, disana ada Rully Nere, Rony Patinasarani, Joko Malis dll. Hadi Ismanto juga mendapat tawaran dari Tunas Inti tapi dia menolak karena tidak enak dengan Pertamina.”
“Saya sempat bimbang, kemudian cerita dengan bos saya di Pertamina.‘Bos saya ditawari Tunas Inti dapat rumah tipe 45 di Pondok Indah bos’. Bos saya merespon,‘Ambil aja John saya 10 tahun kerja di Pertamina belum dapat rumah, ambil aja John’.”
“Saya menemui pak Beny,bos PT Tempo, dan siap gabung dengan Tunas Inti. ‘Berapa kamu digaji di Pertamina?’. 150.000 pak. ‘Ya sudah kamu saya gaji 300.000, kamu mau kerja boleh mau kuliah juga boleh terserah pokoke’.”
“Orang tua saya mencak-mencak ketika tahu saya keluar dari Pertamina, di Pertamina saya digaji 150.000, di IM 45.000 kalau seri bonus 5000 kalau menang 10.000. Sedangkan di Tunas Inti, saya digaji 300.000 plus rumah kalau menang bonus 100.000. Saya hanya menenangkan orangtua,‘Tenang ae pak pokoke beres’.”
“Pemain-pemain asal Jakarta menolak rumah karena sudah punya rumah, jadi minta mentah-an saja. Saya sempat bingung,‘kamu kalau rumah satu bulan lagi jadi rumahnya gimana?’. Saya bertanya mentahan-nya berapa?’. ’10,6 juta’. Akhirnya saya minta mentah-an dan beli mobil seperti teman-teman yang lain.”
Di Tunas Inti beliau benar-benar merasakan iklim profesionalisme di sepakbola.
“Bosnya Tempo orangnya gila bola, bahkan ketika di Amerika. Dia tidak mau ketinggalan berita, kalau Tunas Inti main dia akan telpon ke Indonesia dan minta telponnya didekatkan radio. Dia telpon dengerin radio selama pertandingan.”
“Waktu di Tunas Inti, pak bos bilang bahwa cedera apapun akan ditanggung kantor. Suatu saat ada pemain cedera parah, sama pak bos besoknya langsung dibawa ke Amerika. Sampai di Amerika dokternya hanya geleng kepala lihat cara dokter Indonesia menangani pasien. Disana dia melakoni terapi jalan di pantai. Enam bulan di Amerika dia kembali ke Indonesia, setelah cedera itu dia yang selalu bermain keras waktu main maupun latihan akhirnya tidak berani bermain keras lagi.”
Meski disibukkan dengan aktifitas sepakbola, beliau tidak melupakan pendidikan, saat bermain di Tunas Inti beliau juga terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI).
“Selama di Tunas Inti saya tidak kerja di Tempo tetapi memilih kuliah di UKI waktu itu masih di Salemba, kalau sekarang pindah ke Cawang. Saat itu ada turnamen antar mahasiswa pemenangnya mewakili Indonesia di Bangkok.”
“Saat itu skuad UKI banyak pemain nasional seperti Rully Nere, di final tahun pertama UKI juara dan di kirim ke Bangkok dan juara. Pelatihnya waktu itu pak Mangindaan, di tahun berikutnya UKI kembali masuk final dan bertemu UPN Surabaya di final saat itu saya berhadapan dengan Yongky Kastanya yang memperkuat UPN, kami kalah dan Yongky yang berangkat ke Bangkok.”
PSSI B
Pekan Olahraga Mahasiswa ASEAN I
“2 tahun setelah memperkuat Tunas Inti saya kembali ke IM selama 1 tahun.  Awalnya mau masuk Niac Mitra tapi kemudian memilih IM meskipun konsekuensinya tidak bisa kerja di Pertamina, kemudian ditawari kerja di tanker tapi saya milih sepakbola. Setahun kemudian IM bubar selanjutnya masuk ke Dolog, lima tahun kemudian saya keluar dari Dolog setelah berkali-kali tes masuk selalu gagal. Selepas Dolog, saya ke Bank Jatim sampai gantung sepatu.”
“Saat di Bank Jatim saya sempat melatih Bank Jatim untuk turnamen antar bank di Surabaya. Saya mengajak Bejo, Uston, Anang Ma’ruf yang saat itu kena skors saat memperkuat PSPS Pekanbaru. Bank Jatim jadi superior, kami menang 11-0, 8-0.”
“Di final kami bertemu Bank Jateng yang diperkuat pemain-pemain liga seperti Seto Nurdiyantoro dll, setangah permainan skor masih 0-0. Untungnya menjelang pertandingan berakhir tim unggul 2 gol. Lega rasanya karena saya berhasil.”
Galatama 1979-1980 => Divisi Utama
(17 Maret 1979 s.d. 6 Mei 1980)
Warna Agung (Jakarta) 25 17 4 4 38 => juara
Jayakarta (Jakarta) 25 14 9 2 37
Indonesia Muda (Jakarta) 25 15 6 4 36
NIAC Mitra (Surabaya) 25 13 8 4 34
Pardedetex (Medan) 25 10 8 7 28
Jaka Utama (Tanjungkarang) 25 10 5 10 25
Perkesa ’78 (Bogor) 25 10 4 11 24
Arseto (Jakarta) 25 7 10 8 24
Tunas Inti (Jakarta) 25 7 7 11 21
Sari Bumi Raya (Bandung) 25 7 7 11 21
Cahaya Kita (Jakarta) 25 8 5 12 21
Tidar Sakti (Magelang) 25 4 5 11 13
Buana Putra (Jakarta) 25 3 6 16 12
BBSA Tama (Jakarta) 13 2 0 11 4
Pertandingan pamungkas liga (Galatama I/1979-1980) itu terakhir pada tanggal 6 Mei 1980 di Senayan: Warna Agung (Jakarta) vs Indonesia Muda (Jakarta) yang berakhir imbang 1-1 dengan pencetak gol Hadi Ismanto (Indonesia Muda) pada menit 14 dan Taufik Saleh (Warna Agung) pada menit 82.

78

Ulasan koran Kompas
Selain di Niac Mitra yang saat itu lagi ngetop-ngetopnya.pemain asal Surabaya ada di IM: Hadi Ismanto, Johny Fahamsyah, dan Joko Irianto (PSSI Binatama seangkatan Budi Juhanis), UMS 80: Hartono, Pelita Jaya: Bonggo Pribadi. Di Tunas Inti ada Riono Asnan, di Warna Agung ada Budi Riva dan Risdianto. Bahkan Joko Malis dan Rudy Kelces yang sudah dua kali memberi gelar untuk Niac Mitra pun bermain di Yanita Utama. Di Arseto ada Abdul Kadir dan Lulut Kistono. Di Jaka Utama Lampung pun ada penjaga gawang M Asyik, Subangkit, dan Maura Hally.
78
Menjadi juara ketiga kompetisi Galatama. Berdiri dari kiri ke kanan : Johannes Auri, Eddy Sabenan, Yudo Hadiyanto, Nus Lengkonan, Makmun, Wahyu Hidayat. Jongkok dari kiri ke kanan : Hadi Ismanto, Junaidy Abdillah, Hasan Tuharea, Johny Fahamsyah, Dede Sulaiman.
Karir di Timnas
Tak hanya bermain di level klub, permainan ciamiknya membuat di panggil untuk memperkuat timnas.
“Selepas dari Soeratin Cup ada 7 pemain dalam skuad Persebaya dipanggil timnas antara lain saya, Joko Malis, Riono Asnan, Ahmad Kautsar, Hamid Maghrobi, Biyanto kemudian kipernya Dodit. Dari 7 disaring tinggal 5 Hamid dan Dodik gugur, kami dipersiapkan untuk turnamen di Iran, sayang akhirnya batal.”
PSSI B
PSSI Yunior
“Selanjutnya diadakan pelatnas jangka panjang di Jakarta, tapi setiap ada panggilan Persebaya kami saya pulang ke Surabaya setelah itu kembali ke Jakarta lagi, sampai di tahun 78.”
“Tahun 79 saya ikut TC jangka panjang timnas di Ragunan. Saat itu PSSI membuat 2 tim hijau dan merah (banteng dan harimau), saya ikut tim yang hijau bersama Hadi Ismanto dll. Kami dipersiapkan untuk turnamen diluar seperti Merdeka Games Malaysia, Kings Cup di Korea dan Jepang Cup sayangnya waktu itu kita gagal juara.”
PSSI B
PSSI B melawan ITALIA junior
“Saat Jepang Cup kami bertemu Tottenham Hotspurs dan Fiorentina, kita satu grup dengan Spurs pemainnya Ardilles dan Villa kalau Fiorentina Antognini. Begitu lawan kita mereka tidak memasang pemain inti karena takut dengan Rae Bawa yang tipikal mainnya keras.”
“Jepang Cup kedua kita bertemu Argentina dengan Maradonanya kita dihajar 7-0 yang main Bambang Nurdiansyah, Subangkit, Budi Johannis, Endang Tirtana dan anak-anak lain yang baru pelatnas di Brazil.”
PSSI B
PSSI B.
Johny Fahamsyah dan Sepakbola
Kepada tim bajulijo.net, Johny Fahamsyah memaparkan pandangannya terhadap sepakbola, suporter dan sisi lain dari sepakbola.
“Pemain idola saya Junaidi Abdillah, gaya mainnya banyak yang menginspirasi saya mainnya juga halus. Selain Jun, saya juga suka Andjiek Alinurudin dan Jacob Sihasale. Jacob striker komplet, shoting maupun headingnya bagus. Kalau Bambang (Pamungkas) ya lewat. Jacob hidungnya bengkok, dia pernah cerita pada saya. Saat lawan Korea bola umpan di dekat tiang gawang, Jacob memaksa melakukan heading dan gol, hidungnya membentur tiang dan bengkok.”
“Kalau kamu main bola,jangan biarkan pemain pengganti main.Begitu pengganti main dan dia main bagus, lewat kamu’. Itu yang selalu saya ingat dan terulang pada Salim Bahmid yang menjadi cadangan abadi saya. Bahkan dia pernah cerita ke saya, ‘aku kasih kesempatan po’o. saya jawab ‘iyo tenang ae’, meski dalam hati ‘entenono ae ga bakalan tak kasih kesempatan’.”
“Dulu saat Persebaya kalah atau menang tidak ada yang namanya kerusuhan, penonton tertib tetapi sekarang justru sebaliknya. Bahkan mobil saya pernah digebrak-gebrak (sama Bonek) waktu saya lewat didaerah Tunjungan. Sejak saat itu saya menggantung atribut Persebaya agar tidak di gebrak-gebrak mobil saya. Harusnya bonek tahu diri, kalau kalah atau main jelek yo jangan rusuh, Ojo njaluk menang tok ae.
PSSI B
saat menjadi pelatih
Bakat besarnya sebagai pemain menurun ke anak laki-lakinya, sayang sepakbola bukan pilihan anak laki-lakinya.
“Pelatih saya pernah bilang di Eropa, orangtua mengantar anaknya waktu kecil olahraga berharap jadi atlit. Kalau gagal dicoba ke musik, kalau gagal di musik ya disuruh fokus ke pendidikan. Kalau di Indonesia, khan tidak orang tuanya tidak mendukung kalau anaknya sepakbola dimarahi dan disuruh les saja.”
“Waktu anak saya kelas 5 SD, saya latih sendiri setelah saya lihat dia punya bakat di sepakbola. Setelah itu saya masukkan SSB di Dolog, pelatihnya di Dolog semua kaget karena ada pemain bagus. Waktu latihan di Dolog, apa yang saya ajarkan diajarkan lagi di Dolog jadi dia terlihat menonjol. Pelatihnya Nicki Putiray, setelah tahu bahwa anak saya, dia bilang, ‘mesti ae wong bapake pemain Persebaya, iki anakmu yo?’. Saya jawab ‘duduk nik, sambil ketawa bareng’.”
“Tapi dia lebih memilih musik. Saya bertanya,’kamu milih mana? band atau bola?’.‘dua-duanya, pak’.‘tidak, harus salah satu, kalau bola ya bola kalau musik ya musik, kalau misalnya besok pagi harus main bola padahal malamnya main musik bagaimana? Harus milih salah satu agar fokus’. saya tidak memaksanya itu soal hati, meskipun banyak pelatih yang menanyakan dia agar latihan lagi, semua harus dari hati saya tidak memaksanya.”


Terima kasih sebesar-besarnya kepada Keluarga Besar Johny Fahamsyah.

SUMBER:
bajulijo.net